Wujudkan Sekolah Gratis, Bukan Pendidikan Gratis

Depok – Penggunaan istilah pendidikan gratis tidak tepat digunakan dalam konteks pendidikan yang sebenarnya. Karena pendidikan mengandung makna yang luas dan terjadi di berbagai ruang dan waktu, sehingga tidak mungkin semua pendidikan tersebut tidak membutuhkan biaya, atau digratiskan. Demikian diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Provinsi Papua, James Modouw, dalam jumpa pers yang digelar saat Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) 2012 di Bojongsari, Depok, pada Selasa siang, (28/02).

James mengatakan, filosofi pendidikan terjadi dalam tiga ruang. Pertama adalah pendidikan formal, di mana pendidikan diterima di sekolah. Kedua adalah pendidikan nonformal, melalui lembaga-lembaga pelatihan yang memberikan sertifikasi kepada pesertanya. Ketiga adalah pendidikan informal, di mana yang berperan adalah keluarga, masyarakat, lembaga adat, pemerintahan, dan media. Atas dasar filosofi tersebut lah maka pendidikan gratis bukan kebijakan dan istilah yang tepat untuk digunakan.

“Kalau kita ingin pendidikan gratis, berarti biaya pendidikan informal dalam keluarga, juga harus dibebankan kepada pemerintah,” ujar James, mengingat luasnya ruang lingkup pendidikan dan banyaknya pihak yang terlibat dalam pendidikan.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh juga pernah mengatakan hal serupa dalam beberapa kesempatan, yaitu bahwa pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah sepenuhnya. “Urusan pendidikan ini sangat banyak. Tidak mungkin semuanya bisa diselesaikan oleh kementerian saja, butuh bantuan pihak lain,” ujarnya. Karena itu, tutur James Modouw, istilah yang tepat adalah sekolah gratis, bukan pendidikan gratis.

Untuk mencapai sekolah gratis bagi masyarakat Indonesia, Kemdikbud memberlakukan wajib belajar sembilan tahun, di mana dalam pendidikan dasar (SD dan SMP), peserta didik tidak dibebankan biaya pendidikan. Kemdikbud juga memberikan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang meliputi biaya investasi dan biaya operasional sekolah. Sementara komponen biaya lainnya, yaitu biaya personal, tetap diusahakan sendiri oleh peserta didik atau orang tuanya. “Namun untuk BOS 2012 ini, sudah merambah ke biaya personal sedikit-sedikit,” kata Plt. Dirjen Pendidikan Dasar Kemdikbud, Suyanto, saat menambahkan penjelasan James tentang sekolah gratis di kesempatan yang sama.

Biaya personal adalah biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan pribadi peserta didik, misalnya pembelian seragam, pembelian alat tulis, atau biaya transportasi sehari-hari. Bagi peserta didik dari keluarga yang tidak mampu secara ekonomi, bisa menggunakan biaya personal dari sebagian dana BOS. Namun jika masih kurang, Kemdikbud juga memiliki program Bantuan untuk Siswa Miskin (BSM) yang bertujuan untuk mengcover biaya personal.

Selain itu, setelah program wajib belajar sembilan tahun dijalankan, pada 2012 ini Kemdikbud memulai rintisan pendidikan menengah universal, di mana biaya investasi dan operasional sekolah dari SD, SMP, hingga SMA/SMK (12 tahun) ditanggung pemerintah. Diharapkan, program-program tersebut bisa mewujudkan sekolah gratis di Indonesia. (DM)

(sumber : http://rembuknas.kemdikbud.go.id/laman/index.php?q=berita/67)

Mapel Pendidikan Agama Islam (PAI) Akan Diujikan di UN 2012

Tahun ini, Panitia Ujian Nasional (UN) membuat kebijakan baru, yaitu Mapel Pendidikan Agama Islam (PAI) akan distandarkan secara nasional. Kebijakan ini mulai diberlakukan pada pelaksanaan ujian sekolah tahun 2012 ini. Untuk soal, Panitia mengaku masih melakukan pembahasan terkait soal ujian yang akan disamakan untuk seluruh sekolah di setiap propinsi.

Soal Mapel Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk UN 2012

Sedikit bocoran, soal nantinya menggunakan model pilihan ganda sebanyak 50 soal dengan waktu pengerjaan 120 menit. Rencananya ujian PAI (khusus untuk SD dan SMP se Kabupaten Katingan berdasarkan kesepakatan pada saat sosialisasi US tanggal 8 Maret 2012) untuk SD pada 2 April 2012 dan untuk SMP pada 21 Maret 2012.

Menurut sumber, nantinya 25% soal akan dibuat oleh Kementerian Agama (Kemenag) Pusat. Sedangkan 75% soal akan dibuat oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) PAI. Selanjutnya, untuk penggandaan soal akan dilakukan oleh Kemenag provinsi. Dari provinsi, soal akan disistribusikan ke tingkat kota.

Bagaimana dengan soal pendidikan agama selain Islam? Masih menurut sumber yang sama dari Panitia Ujian Nasional (UN), soal akan dibuat oleh sekolah masing-masing. Namun rencananya ke depan, soal akan disamakan untuk seluruh sekolah di setiap propinsi.

Dengan adanya UN Mapel Pendidikan Agama Islam (PAI), siswa memang harus belajar lebih keras. Namun, diharapkan setiap siswa lulus dengan pemahaman agama yang baik, yang semoga juga bisa mempengaruhi sikapnya di masyarakat.

Untuk mendapat Pedoman Pelaksanaanya dapat di download disini.

Aplikasi Data Ditjen Dikdas Akan Satukan Semua Aplikasi Data

========================================================

Aplikasi data Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar [Ditjen Dikdas] yang saat ini sudah disosialisasikan dalam 2 regional, yaitu Regional I di Medan dan Regional II di Yogyakarta, bertujuan untuk menjadi pengganti dari semua aplikasi data yang sudah ada.

“Ini dalam rangka menyatukan aplikasi-aplikasi data yang selama ini bertebaran, dan membuat teman-teman daerah bolak-balik ke sekolah melakukan pendataan,” kata Supriyatno, S.Pd., MA., Kasubag Data dan Informasi, Bagian Perencanaan dan Penganggaran Setditjen Dikdas, di Hotel Saphir, D.I. Yogyakarta, Jumat kemarin [22/07].

Seperti diketahui, selama ini, petugas data di daerah mengerjakan 5 aplikasi, yaitu; Padati [Pangkalan Data dan Informasi], NISN [Nomor Induk Siswa Nasional], NUPTK [Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan], Aplikasi dari Direktorat Pembinaan SMK, dan Aplikasi dari daerah masing-masing. Melihat banyaknya aplikasi ini, mereka berharap agar aplikasi data menjadi satu untuk efektifitas dan efisiensi. [baca; Daerah Inginkan Satu Aplikasi Data]

“Jadi, aplikasi dari Ditjen Dikdas ini tujuannya menyatukan data siswa, sekolah dan guru. Tiga pilar ini sudah cukup sebagai data pokok,” pungkas Supriyatno.

Lebih Komprehensif
Aplikasi data milik Ditjen Dikdas, dinilai lebih komprehensif dibandingkan dengan aplikasi data yang sudah ada.

“Ada hal yang baru. Ini seperti perpaduan Padati, dan lebih luas karena ada NUPTK dan NISN. Kalau ini mendata siswa hingga detail, sementara Padati tidak,” kata Desy Parera, Staf di Sub Bagian Data Bagian Perencanaan Dinas Kota Tegal, Jawa Tengah.

Meski memuji Aplikasi Data milik Ditjen Dikdas, Desy Parera mengatakan bahwa Aplikasi Data Ditjen Dikdas masih baru, dan ia belum bisa menilai bahwa aplikasi ini sudah tahan ujian.

“Kalau Padati itu datanya valid. Andai ada salah, itu bisa terdeteksi secara otomatis. Nah kalau aplikasi yang ini kan belum tahu,” kata Desy Parera.* [sumber : http://dikdas.kemdiknas.go.id/content/berita/utama/aplikasi-dat.html%5D

Untuk download semua Dokumen Umum Pendataan (Aplikasi, Instrumen dan Video) dapat diperoleh di  sini

Katingan Produksi 15.000 Bangku Gratis Berbahan Baku Rotan Untuk Sekolah

Pemerintah Kabupaten Katingan membuat terobosan jitu untuk menyerap hasil produksi rotannya, menghadapi kemungkinan penutupan kerana ekspor rotan oleh pemerintah pusat.

Pemerintah Kabupaten Katingan akan memproduksi sebanyak 15.000 set bangku sekolah berbahan utama rotan sekitar 70 persen. Bangku sekolah ini akan dibagi-bagikan secara gratis alias cuma-cuma untuk semua sekolah di Kabupaten Katingan.

Rencana ini disampaikan langsung oleh orang nomor satu Katingan, Bupati Drs. Duwel Rawing, Rabu (21/12), disela-sela pidato dihadapan rapat paripurna dewan dengan agenda penetapan APBD Katingan Tahun Anggaran 2012.

“Untuk mendukung penyerapan produksi rotan asalan di daerah sentral produksi akan diproduksi meja kursi (bangku) sekolah berbahan minimal 70 persen rotan,” kata Bupati.

Program ini, sebut Bupati akan menggunakan dana para pengusaha melalui program CSR (corporate social response bility) yang hasil produk akan dibagikan kepada sekolah-sekolah secara cuma-cuma.

“Katingan mendapatkan kesempatan memproduksi 15.000 set dengan memaksimalkan pemanfaatan mesin yang sudah ada dan mendatangkan tambahan tenaga trampil dari Cirebon,” kata Bupati.

(Sumber : http://katingankab.go.id)

Selamat Datang di Situs Kami

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.